Ada 3 kalimat bijaksana sederhana namun mengetuk relung hati saya yang disampaikan Mantan Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Alm. H. Eko Maulana Ali kepada Pak Hermanto (Aliong), pemilik Pemandian Dwi Kuan In di kampung Jelitik Sungailiat semasa hidupnya pada 2010 silam. Pesan bijaksana itu masih terpampang di warung kecil milik mantan staf ahli bidang pariwisata di era EMAS ini. Kalimat bijak itu adalah”Jika Ada Orang Yang Menyusahkan Kita Jangan Gusar, Anggaplah Itu Tumpukkan Rezeki, pesan kedua “Mulai Hari Ini Belajarlah Sedapat Mungkin Menyenangkan Orang Lain”, yang terakhir adalah “Walaupun Merasa Pahit Dalam Hidupmu, Tetapi Dengan Tujuan Mulia, Itulah Bahagia.” Ketiga pesan indah Sang Legenda Babel ini perlu kita resapi dan sikapi agar kehidupan ini lebih baik lagi kedepannya.
Alm. Dr. Ir. H. Eko Maulana Ali adalah seorang pemimpin yang sangat bersahaja di ranah melayu Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, terlahir dari pasangan Alm.H. Suroso Suro Prayitno dan Alm.Hj. Albarina, kelahiran Desa Kelapa, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat, 28 September 1951. Beliau memiliki konsep-konsep kepemimpinan mengkolaborasikan kecerdasan intelektual dan spritual, kepemimpinan yang terarah & teruji dengan mengkedepankan konsep pembangunan yang berkesinambungan, disesuaikan dengan kondisi dan kharakteristik Negeri Serumpun Sebalai. Pembangunan demi pembangunan di Babel sangat menyentuh masyarakat dan itu dapat dibuktikan dengan beberapa warisan pembangunan yang sudah dibangun beliau dimasa kepemimpinan Pak Eko. Hasil pembangunan merupakan jerih payah pemikiran & perjuangan brilian dari Pak Eko hanya semata-mata untuk mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Tak Pelak lagi sampai sekarang, masyarakat merasa sangat kehilangan sosok yang cerdas, tegas, jujur, amanah dan bersahaja dalam memimpin provinsi tercinta ini. Siapa yang tak mengenal Pak Eko dari kalangan anak-anak sampai orang tua sangat familiar dengan nama besar Pak Eko. Masyarakat dusun, desa hingga orang kota di Babel begitu mengenal sosok Pak Eko, hingga sekarang pun orang masih merindukan gaya kepemimpinan Pak Eko. Tradisi melihat lebih dekat kondisi sosial, ekonomi masyarakat nya (Tradisi Blusukan) jauh-jauh hari sudah dijalani beliau, dari Pak Eko menjabat Bupati Kabupaten Bangka selama 2 periode hinggga menahkodai Provinsi Kepulauan Bangka Belitung selama 2 periode juga walaupun akhirnya pada tahun 2013, Pak Eko mangkat tepatnya dibulan suci Ramadhan 1434 H di RS. Bung Karno Desa Air Anyir Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka.”Kadang kala kami berdua pergi ke kampung-kampung, tir, orang ngggak tahu, kami ketemu masyarakat ”kata H. Fahruddin (Mantan Sopir Pak Eko). Strategi Kepemimpinan itu sudah melekat dihati dan tidak dapat dipisahkan beliau dalam mewujudkan pembangunan dan kesejahteraan yang diinginkan oleh seluruh lapisan masyarakat Bangka Belitung hingga akhir hayat beliau.
Pak Eko dalam mewujudkan impian menjadi pemimpin di Kabupaten Bangka dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tentunya menjalani fase yang cukup panjang, dimulai dari karir militer sebagai seorang purnawiraan TNI-AL yang meniti karir dari pendidikan Perwira Wajib Militer angkatan tahun 1980, dengan masa dinas selama 20 tahun. Dengan Pangkat Letnan Kolonel TNI-AL kejuruan khusus(Kh), menjadi bekal beliau ketika ditunjuk Panglima ABRI untuk tugas kekaryaan sebagai seorang Bupati Kepala Daerah Tingkat II Bangka pada bulan Agustus 1998. Pada tanggal 1 Agustus 2000, secara resmi Pak Eko dipensiunkan dari kedinasan TNI-AL dengan pangkat terkhir Kolonel. Ditengah hiruk pikuk aktivitas penambangan ilegal, TI di darat dan TI apung di bibir pantai, muncul kembali gerakan berupa perjuangan Bangka Belitung untuk menjadi provinsi sendiri terlepas dari Provinsi Sumatera Selatan melatarbelakangi Sang Pemimpin Babel untuk hijrah ke masyarakat sipil meninggalkan lembaga candradimuka yang telah membentuk karakter pribadi pak eko yang tegas. Pada tahun 2007, Pak Eko mencalonkan diri menjadi Gubernur Kepulauan Bangka Belitung. Tahun 2002 sebenarnya dukungan untuk maju sebagai pemimpin di Babel sudah mendapat dukungan riil dari lebih 30 orang anggota DPRD dari 45 orang anggota DPRD yang ada. Pesan yang kuat dari ibunda tercinta Alm. Hj. Albarina,”Jangan sampai menimbulkan kesan seakan-akan kembali ke daerah hanya mengejar kedudukan atau pangkat saja, tetapi yang lebih penting adalah karya buat daerah tercinta”, menjadi nasehat sang ibunda tercinta untuk mengurung tekat Pak Eko.(Kepemimpinan Transformasional dalam Birokrasi Pemerintahan, Dr. Ir. Eko Maulana Ali, SAP, M.Si, M.Sc).
Ketika Pak Eko mencalonkan diri sebagai Gubernur Kepulauan Bangka Belitung tahun 2007, Beliau mengundurkan diri dari jabatan Bupati Bangka. Kadang kala politik itu memang menghalalkan segala cara, menghadapi kampanye hitam berupa fitnahan, cercaan, dan pembunuhan karakter yang dilakukan oleh pihak lawan politik, Pak Eko harus melalui semua itu dengan kesabaran dan keikhlasan sebagai tantangan perjuangan dan suatu peluang untuk menarik simpati masyarakat. Kepada masyarakat dimanapun beliau menginjak kakinya, Pak Eko selalu berusaha memberikan tausyiah agar dalam berpolitik jangan memfitnah, menjelek-jelekan orang, membongkar aib orang, iri terhadap keberhasilan orang lain ataupun menghina orang lain. Jauh sebelum memimpin di Bangka (sebelum tahun 1998), Pak Eko sudah memahami sebuah pesan dari salah satu pejuang kemerdekaan RI, Ruslan Abdul Gani mengatakan bahwa”Pemimpin adalah Lorong Duka Nestapa”.(Kepemimpinan Transformasional dalam Birokrasi Pemerintahan, Dr. Ir. Eko Maulana Ali, SAP, M.Si, M.Sc).
Pembangunan demi pembangunan diberbagai bidang sudah beliau ukir dan menjadi prestasi gemilang yang tak terbantahkan.
- Pembangunan dibidang Mental & Spritual
Sebagai upaya menciptakan iklim kondusif dibidang mental dan spritual Pak Eko melakukan sejumlah langkah-langkah konkrit dengan melibatkan semua elemen masyarakat baik itu pejabat pemerintah, elite politik, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda dan generasi muda. Perhatian terhadap keagamaan terus ditingkatkan terutama pada masalah fasilitasi para ulama berdakwah, rehabilitasi dan pembangunan masjid, gereja, wihara, kelenteng dan pura, penguatan lembaga-lembaga pendidikan keagamaan, peningkatan kegiatan pemuda dan olahraga. Untuk kepentingan berdakwah, Pak Eko membentuk Yayasan Bina Ummat. Selama kurun waktu tahun 2007 s/d 2012, telah dibangun Masjid Assa’dah Kampung Gabek Pangkalpinang, rehabilitasi Masjid Jami’ Pangkalpinang. Pak Eko juga ikut dalam pembangunan Masjid Jami’ Koba, Kota Toboali, Kota Manggar bersama-sama dengan pemerintah daerah setempat, rehabilitasi Masjid Agung Sungailiat. Selama menjabat Gubernur Kepulauan Bangka Belitung 2007-2012 Pak Eko memberikan perhatian kepada pengembangan dan pembangunan sarana dan prasarana keagamaan. Dari catatan resmi Biro Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung selama kurun waktu 5 tahun, telah diberikan sumbangan dan dukungan terhadap rehabilitasi dan pembangunan masjid, baik yang ada di daerah perkotaan maupun pedesaan sebanyak 646 Masjid/Mushola dari sekitar 1300 Masjid/Mushola yang ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Sebagai bentuk apresiasi pada tahun 2011 Pemerintah Pusat memberikan Pak Eko penghargaan Amal Bakti Bidang Pendidikan Agama oleh Menteri Agama RI.
- Pembangunan dibidang Pendidikan
Dr. Ir. H. Eko Maulana Ali Suroso bukan hanya seorang pemimpin di ranah melayu ini tetapi juga beliau dapat dikatakan pejuang di bidang pendidikan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dunia pendidikan juga mendapat perhatian serius dari Pak Eko dimulai saat menjabat Bupati Kabupaten Bangka diantaranya menggagas dan mendukung Sekolah Tsanawiyah Bahrul Ulum (Islamic Centre) Desa Ake Kelurahan Sinar jaya/Jelutung, Membentuk yayasan pendidikan dengan mendirikan Sekolah Menengah Pertanian Atas (SPMA) di desa Dendang, Kecamatan Kelapa. Pada tahun 2003, Pak Eko mendirikan SMK perternakan di desa Petaling. Pada tahun 2008 dilakukan hibah miliaran rupiah untuk membangun Universitas Bangka Belitung menjadi Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Pembangunan Perguruan Tinggi STAIN Syech Abdurrahman Siddik, Politeknik Manufaktur Timah (Polman), dan Politeknik Kesehatan (Poltekes), pada tahun 2008 atas prakarsa Pak Eko, Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bekerjasama dengan Universitas Terbuka (UT) membuka program studi post-graduate S-2 jurusan Administrasi Publik, dan tahun 2013 sebelum wafat beliau meresmikan SPN Lubuk Bunter di desa Balun Ijuk Kecamatan Merawang Kabupaten Bangka.
- Pembangunan dibidang Pariwisata
Pak Eko ketika menjabat Bupati Kabupaten Bangka sudah begitu peduli dengan pengembangan potensi pariwisata. Pada tahun 2005 terbit buku yang berjudul Bangak Oh Bangka : Visi Pariwisata Tahun 2010, dimana Pak Eko berharap segera ada penerbangan pesawat komersial berjenis jet 737-200 dari Jakarta-Pangkalpinang. Sampai saat ini sudah ada beberapa perusahaan penerbangan dengan frekuensi sampai 15 kali penerbangan. Mengalir dari Dasa Bhakti Era Emas dicanangkan salah satu agenda Visit Bangka Belitung Archipelago on 2010. Program ini merupakan salah satu program unggulan berbasis pada sektor pariwisata yang didukung oleh kekuatan sektor-sektor pembangunan lainnya secara terpadu, terarah, dan berkesinambungan. Semuanya agar mampu memberikan pelayanan yang optimal dalam rangka menerima kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara di Negeri Serumpun Sebalai. Pada tanggal 28 Desember 2008 dilaksanakan pencanangan Visit Bangka Belitung Archipelago on 2010 oleh Menteri Parawisata kala itu, Ir. Jero Wacik dan menetapkan Belitung adalah salah satu daerah destinasi wisata nasional setelah Bali dan Lombok. Pada tahun 2011, Waktobi dan Pulau Belitung Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ditunjuk pemerintah pusat melaksanakan event nasional, Sail Wakatobi-Belitong. Program ini adalah salah satu cara untuk membangun citra, promosi daerah, membangun cara pandang masyarakat sebagai daerah tujuan wisata, gairah dalam membangun sektor kepariwisataan, dan terbangunnya infrasruktur-infrastruktur penting, seperti jalan, jembatan, dermaga, dan renovasi Bandara Hananjudin Tanjungpandan. Sejak menjabat sebagai Bupati Kabupaten Bangka, Pak Eko juga sudah mengangkat potensi kepariwisataan di Pulau Bangka terutama adat istiadatnya. Bersama-sama dengan H. Manan dan H. Ilyasak melakukan pemugaran makam pahlawan Depati Bahrin di desa Kimak pada tahun 1999 dan setelah itu setiap tahun dilakukan ziarah kegiatan ke makam pahlawan Depati Bahrin. Pada tahun 1999 juga dimulai adanya acara Mandi Belimau di dusun Limbung desa Jada. Setelah itu muncul acara-acara adat lainya seperti Perang Ketupat di desa Tempilang, Pesta Adat Kundi Kabupaten Bangka Barat, Rebo Kasan di desa Air Anyir, Kawin Massal, Pesta Kampong Hikuk Helawang, Pesta Maras Taon di Selat Nasik, Buang Jung dan lain-lainnya tetap dilaksanakan hingga sekarang sebagai daya pikat di sektor pariwisata. (Kepemimpinan Transformasional dalam Birokrasi Pemerintahan, Dr. Ir. Eko Maulana Ali, SAP, M.Si, M.Sc).
Pembangunan demi pembangunan terus digalakkan oleh Sang Pemimpin cerdas yang selalu dirindukan oleh masyarakat Bangka Belitung ini, antara lain membangun dan memperluas Bandara Depati Amir Pangkalpinang sebagai Bandara Internasional, membangun Dermaga Laut Internasional di Pulau Belitung, membangun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), membangun kota baru di kawasan Air Anyir Baturusa yang didesain sebagai sebuah kota modern, membangun Rumah Sakit Provinsi (RSUP) Kelas B, melanjutkan pembangunan jalan lingkar Bangka dan Trans-Bangka Selatan. Pembangunan Jembatan Baturusa II atau sekarang lebih dikenal dengan Jembatan EMAS (EKO MAULANA ALI SUROSO) yang dibangun di depan alur pelayaran memasuki pelabuhan Pangkalbalam, dimana bagian alur pelayarannya dapat dibuka dan ditutup dengan menggunakan sistem bascule. Jembatan Emas ini pertama kali dibangun di kawasan asia dan didesain secara khusus dan unik dipersiapkan sebagai icon Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Jembatan EMAS memiliki panjang 720 meter dan lebar 24 meter.
Seabrek prestasi dan penghargaan dari Pemerintah Indonesia maupun lembaga adat di Babel, alm. Eko Maulana Ali dapatkan baik dibidang pembangunan maupun kepedulian Pak Eko terhadap kondisi sosial masyarakat, dari beliau menjabat Bupati Kabupaten Bangka hingga Gubernur Kepulauan Bangka Belitung. Pembangunan yang beliau ukir di ranah negeri serumpun sebalai, baik jembatan, rumah sakit, perguruan tinggi, dan lain-lainya tanpa pamrih, beliau tidak mengharapkan apa-apa dari pembangunan itu kecuali bisa dirasakan, dinimati manfaatnya oleh seluruh masyarakat Bangka Belitung. Ketika beliau dirawat di rumah sakit di Yogyakarta, Pak Eko tetap terus memantau perkembangan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sebagai seorang pemimpin yang memiliki kepekaan, kepedulian, pemikiran yang cemerlang, walau dalam kondisi apapun, bagi beliau Provinsi Kepulauan Bangka Belitung selalu dinomorsatukan. Ini merupakan wujud tanggungjawab, dedikasi dan pengabdian dirinya sebagai seorang pemimpin yang dipilih rakyat. “Selama Allah SWT memberikan nafas kehidupan, saya akan terus dan terus bekerja tanpa pamrih untuk rakyat dan negeri ini” demikian pesan almarhum kepada penulis. Semoga pemimpin di Bangka Belitung terus mengikuti jejak kepemimpinan Pak Eko.
